Botol Susu yang Direbus Bahayakan Kesehatan Bayi

Kebiasaan mensterilisasi botol susu bayi dengan cara merebus botol ternyata dapat menimbulkan bahaya kesehatan bagi anak.

“Jangan merebus botol susu untuk sterilisasi, lebih baik direndam saja dengan air mendidih,” kata Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Mustofa, hari ini.

Mustofa mengatakan kebanyakan botol susu bayi terbuat dari plastik jenis Polikarbonat (PC). Jika direbus ada kemungkinan plastik ini akan melepaskan residu senyawa kimia yaitu Bisfanol yang menimbulkan bahaya Endocrine Disrupter yang menganggu sistem hormon tubuh.

Mustofa mengatakan untuk membersihkan botol susu bayi sebaiknya cukup dibilas air mendidih beberapa saat.

Botol susu juga sebaiknya tidak dicuci dengan sikat yang keras yang dapan  menggores bagian dalam botol sehingga melepaskan senyawa berbahaya.

“Waspadai jika botol susu sudah berubah menjadi buram, bisa jadi bagian dalamnya sudah tergores, lebih baik botol susu bayi diganti setiap beberapa bulan sekali,” katanya.

Ngilu pada Sendi Tak Selalu Asam Urat

 

Kompas.com – Begitu rasa ngilu pada sendi menyerang, banyak orang langsung mengaitkannya dengan penyakit asam urat (gout). Pengertian tersebut perlu diluruskan karena tidak semua keluhan nyeri sendi disebabkan oleh asam urat. Ada penyakit lain yang perlu diwaspadai, yakni artritis rematoid. Artritis rematoid (AR) adalah penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan yang sehat sehingga menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan sendi. Walau kerap merasakan nyeri pada sendi, namun pada asam urat selalu ditemukan kadar asam urat yang tinggi dalam darah sedangkan penyakit AR tidak. Asam urat lebih banyak diderita kaum pria, sedangkan AR mayoritas menyerang kaum wanita pada usia produktif (20-40 tahun). Prof.Harry Isbagio, Sp.PD-KR, menjelaskan, ada lebih dari 100 jenis penyakit rematik yang gejalanya mirip satu sama lain sehingga sulit dibedakan. Karena itu masyarakat hendaknya tidak menganggap sepele keluhan nyeri dan rasa kaku pada sendi. Peradangan pada artritis rematoid bisa menyebabkan nyeri sendi, kekakuan, dan pembengkakan yang menyebabkan hilangnya fungsi sendi karena kerusakan tulang dan tulang rawan yang bisa berujung pada kecacatan permanen. “Salah satu gejala utama penyakit AR adalah kaku pada sendi-sendi lebih dari 30 menit dan sudah berlangsung dari enam bulan. Segera periksakan ke dokter dan lakukan pemeriksaan laboratorium,” kata Prof.Harry, dalam acara pemaparan hasil penelitian Tocilizumab yang diadakan oleh Roche Indonesia di Jakarta, Jumat (14/9/12). AR juga bisa menyerang berbagai sendi dan umumnya simetris, misalnya kedua jari tangan kiri dan kanan atau kedua lutut. “Penyakit ini juga bisa menyebabkan berbagai gangguan pada organ lain, misalnya jantung dan meningkatkan risiko keganasan,” katanya. Di Indonesia, diperkirakan 0,1 – 0,3 persen penduduk menderita AR. Bila tidak segera mendapatkan pengobatan yang tepat penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan permanen pada sendi. Meskipun penyakit AR tidak bisa disembuhkan namun saat ini sudah tersedia obat-obatan yang bisa mencegah kerusakan sendi dan mengurangi rasa nyeri. “Obat akan mengurangi peradangan sehingga fungsi sendi bisa diperbaiki,” imbuh dokter dari Divisi Rematologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM ini. Seperti halnya penyakit hipertensi atau diabetes melitus, pasien AR juga harus terus mengonsumi obat-obatan dalam jangka panjang. “Jika obat diminum terus maka perjalanan penyakit bisa dicegah sehingga komplikasinya akan berkurang,” katanya.

 

Sumber: kompas health

5 Kanker yang Mengincar Pria

Meski sering merasa sebagai makhluk yang kuat, tak ada pria yang tak bisa dikalahkan, apalagi dalam hal kesehatan. Waspadai lima jenis kanker yang banyak diderita pria dan ketahui cara menghindarinya.

1. Kanker prostat

Sering kali tidak bergejala pada awalnya. Namun, pemeriksaan prostat secara teratur untuk mengetahui kadar prostate spesicif antigen (PSA) bisa membantu mendeteksi kanker ini sedini mungkin. Kabar baiknya, pertumbuhan kanker ini berjalan sangat pelan. Gejala seperti gangguan berkemih (sering buang air kecil, rasa tidak tuntas) biasanya merupakan gejala pembesaran prostat.

2. Kanker paru

Kanker paru juga kerap tidak menunjukkan gejala awal, tetapi waspadai jika Anda menderita batuk yang tak kunjung sembuh dan sering disertai darah. Nyeri pada dada yang menetap dan tidak dipicu oleh gerakan tubuh juga sebaiknya diperiksakan ke dokter.

3. Kanker kolorektal

Jangan pernah menganggap remeh adanya darah pada tinja meski hanya terjadi sekali. Hal itu bisa menjadi pertanda adanya polip prakanker. Pada kebanyakan kasus, bahkan kanker kolorektal tidak memberikan gejala. Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan melakukan kolonoskopi.

4. Kanker kandung kemih

Kebanyakan kanker kandung kemih hanya mengenai bagian dinding sehingga, jika ditemukan sejak stadium dini, maka bisa disembuhkan. Waspadai gejala seperti darah di urine. Meski bukan kanker, bisa juga itu merupakan gejala batu ginjal.

5. Kanker limfoma

Beberapa gejala yang harus diwaspadai antara lain pembengkakan kelenjar di leher, ketiak, atau selangkangan. Jangan abaikan pula penurunan berat badan lebih dari 1-2 bulan, serta rasa gatal tanpa ruam.

Sumber :

Menjadi Ayah di Usia 40 Tahun Berisiko Bayi Cacat

Ini adalah studi pertama yang menghubungkan usia ayah dengan risiko kesehatan yang mungkin terjadi pada bayi setelah penelitian beberapa dekade yang menghubungkan dengan ibu dewasa.

Dr Allan Pacey, dari British Fertility Society, mengatakan, “Fakta mengejutkan, lelaki mengirimkan resiko lebih tinggi dari mutasi untuk anak-anak mereka daripada perempuan. Penelitian ini seharusnya mengingatkan kita jika alam merancang kita untuk memiliki anak-anak di usia muda.”

“Jadi seharusnya semua lelaki dan perempuan tidak menunda memilik anak.”

Temuan ini sebagai hasil ratusan tes pada sperma ayah berusia 20-an dibanding yang berusia lebih dari 40 tahun.

Ahli genetika, Dr Agustinus Kong, yang memimpin penelitian di Islandia, mengatakan menekankan pentingnya usia seorang ayah.

Darren Griffin, profesor genetika di University of Kent, mengatakan itu menunjukkan bagaimana penuaan merusak DNA.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan kesuburan lelaki turun dengan cepat setelah 35 tahun.

Studi: Perokok Berat Berisiko Perdarahan Otak

Merokok lebih dari 20 batang sehari hampir tiga kali lipat kemungkinan menderita perdarahan otak fatal.

Demikian hasil penelitian terbaru yang dilakukan para peneliti Korea.

Dalam penelitian tersebut, mereka menyelidiki 426 kasus perdarahan otak antara tahun 2002 dan 2004. Para pasien tersebut dibandingkan dengan sekelompok orang — dengan jumlah yang sama — yang tidak mengalami perdarahan otak.

Hasil menunjukkan, kemungkinan yang mampu bertahan hanya sekitar 50 persen, sementara pasien yang berhasil bertahan kebanyakan mengalami cacat seumur hidup.

Selain itu, para peneliti juga menemukan, bahwa setelah mempertimbangkan faktor lain seperti asupan garam, berat badan, dan riwayat keluarga yang menderita diabetes, perokok rata-rata 2,84 kali lebih mungkin menderita perdarahan otak ketimbang non-perokok.

Beranjak dari temuan itulah, para peneliti berkesimpulan, bahwa semakin banyak batang rokok yang diisapnya setiap hari, maka semakin berisiko menderita perdarahan otak.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Chi Kyung Kim, dari Seoul National University Hospital, menulis dalam Journal of Neurology, Neurosurgery and Psychiatry: “Temuan kami menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko perdarahan otka, tetapi berhenti merokok mengurangi risiko dalam waktu tertentu, tergantung caranya.”

Untuk mencegah risiko tersebut, para peneliti menyerukan upaya lebih global dan kuat bagi orang untuk berhenti merokok.

Penulis: Daily Mail/Ririn Indriani

Penyakit Tak Menular, Penyebab Kematian Terbanyak di Indonesia

Salah satu masalah kesehatan yang mendesak di Indonesia adalah meningkatnya  jumlah kasus penyakit tidak menular (PTM) yang merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia.

Demikian yang dikemukakan oleh Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes),  di Jakarta, Selasa (28/8).

Kemenkes mencatat, kematian akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995, menjadi 49,9% pada tahun 2001, dan 59,5% pada tahun 2007.

Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis.  “Kematian akibat  PTM  terjadi di perkotaan dan perdesaan,” jelas Tjandra.

Selain itu, Indonesia juga masih harus berjuang mengatasi wabah flu burung.

Perlu diketahui, hingga pertengahan Agustus 2012, sudah ada 191 kasus positif flu burung di Indonesia dengan 159 kematian.

Jumlah tersebut merupakan jumlah tertinggi di dunia dengan korban meninggal akibat flu burung mencapai lebih dari 300 orang. Sungguh memrihatinkan!

Kandungan ASI Tekan Risiko Penularan HIV

Kompas.com – Kandungan dalam Air Susu Ibu (ASI) diduga kuat mengurangi risiko penularan HIV dari ibu kepada anak. Karena itu para wanita yang terinfeksi HIV disarankan untuk tetap menyusui bayinya sambil terus mengonsumsi obat ARV.

Penelitian yang dilakukan di Zambia menyimpulkan hal tersebut. Para peneliti mengumpulkan contoh ASI dari 81 wanita dengan HIV positif yang menularkan virus mereka pada bayinya selama masa menyusui, serta 86 contoh ASI dari wanita yang positif HIV tetapi tidak menularkan virus, serta 36 wanita yang tidak terkena HIV.

Para ilmuwan kemudian menganalisa sampel ASI tersebut untuk mengetahui konsentrasi karbohidrat yang disebut oligosakarida dalam susu manusia. Ada bukti kuat yang menunjukkan oligosakarida mengandung komponen aktif imunologi yang mengurangi risiko penularan virus.

Hasil penelitian yang dimuat dalam American Journal of Clinical Nutirion menemukan bahwa wanita yang ASI-nya memiliki kandungan oligosakarida dalam jumlah tinggi, beresiko lebih rendah menularkan HIV kepada bayinya dibandingkan dengan mereka yang konsentrasinya lebih rendah.

“Selama ini orang lebih mengenal kandungan protein dan lemak yang baik dalam ASI, tetapi oligosakarida kurang diketahui manfaatnya,” kata Lars Bode, ketua peneliti dan asisten profesor pediatrik dari Universitas California, San Diego.